Yayasan Dharma Susila Yogyakarta, sebuah lembaga nirlaba yang berbasis di Bantul, menegaskan komitmennya terhadap pendidikan karakter integral melalui pengesahan struktural oleh Kemenkumham RI pada Februari 2021. Namun, di balik fondasi legal yang kokoh, Yayasan kini dihadapkan pada tantangan ganda: memastikan kesinambungan kepemimpinan di internal dan mempertahankan relevansi pendidikan Dharma di tengah arus digital eksternal.
Konsolidasi struktural yayasan dilakukan sebagai respons terhadap dinamika kelembagaan. Notulen rapat 22 Oktober 2020 mencatat bahwa perubahan Organ Yayasan menjadi mendesak setelah meninggalnya beberapa anggota Pembina, termasuk Made Murdika dan Ida Bagus Nyoman Puja. Kehilangan tokoh kunci ini menyoroti tantangan Yayasan untuk membangun mekanisme regenerasi kepemimpinan yang terstruktur agar visi dan operasional tidak terhenti.
Di sisi tata kelola, meski yayasan memiliki tiga organ fungsional yang legal, tantangan tetap terletak pada sinergi dan keseimbangan kekuasaan. Kepemimpinan (Pembina G.W. Dharmadi) dan pelaksanaan harian (Pengurus Prof. Dr. Wayan Tunas Artama) harus tetap diawasi secara efektif oleh Pengawas (I Nyoman Cakranegara, S.H., CN.) demi menjamin akuntabilitas tanpa menghambat misi.
Relevansi Kurikulum di Era Digital
Tantangan terbesar Yayasan Dharma Susila saat ini berada di ranah implementasi misi, khususnya program andalan Pasraman Widya Dharma. Pasraman ini bertujuan mencetak generasi yang memiliki Karakter Spiritual (Susila) dan Intelektual. Namun, pendidikan spiritual ini harus berjuang melawan arus informasi deras di media sosial.
Tantangannya adalah bagaimana membuat materi Dharma dan Susila tetap menarik dan aplikatif bagi generasi muda Yogyakarta agar tidak dianggap kuno. Selain itu, Yayasan yang sekretariatnya terpusat di kompleks Pura Jagat Natha “Banguntopo” di Bantul, harus mencari cara untuk memperluas dampak pendidikannya ke segmen masyarakat yang lebih luas di luar komunitas Pura.
Tantangan finansial klasik turut membayangi. Sebagai lembaga nirlaba, Yayasan harus menemukan model keberlanjutan pendanaan yang stabil agar misi pendidikan karakternya tidak bergantung pada sumbangan, sekaligus mempertahankan independensi dan idealisme. *













