Jejak langkah Yayasan Dharma Susila Yogyakarta adalah kisah tentang inisiatif tulus para tokoh masyarakat dan praktisi spiritual yang menyadari kebutuhan mendesak akan sebuah wadah formal. Tujuannya adalah memayungi dan mengembangkan kegiatan keagamaan, sosial, serta pendidikan Hindu Dharma di Daerah Istimewa Yogyakarta secara terorganisir dan berkesinambungan.
1. Titik Awal Pendirian (2015)
Yayasan secara resmi lahir dan Anggaran Dasarnya dicatatkan untuk pertama kali pada tanggal 12 Januari 2015 (Nomor 01). Masa ini merupakan fase perintisan, di mana Yayasan mulai menancapkan pondasi filosofis dan merintis program-program awal. Dengan berpegang pada semangat Dharma, Yayasan mulai menjalankan misi-misi sosialnya dan menumbuhkan kepercayaan di tengah komunitas.
2. Konsolidasi dan Pembaharuan Struktural (2020-2021)
Seiring dengan bertambahnya usia dan meluasnya jangkauan program, Yayasan menghadapi kebutuhan untuk meningkatkan efektivitas organisasi dan menyesuaikan struktur demi memastikan keberlanjutan. Melalui Rapat Badan Pembina yang digelar pada 22 Oktober 2020, diputuskan untuk melakukan perubahan pada Organ Yayasan, termasuk merespon kekosongan yang timbul akibat wafatnya beberapa anggota Pembina. Keputusan ini menunjukkan komitmen Yayasan terhadap tata kelola yang adaptif dan selalu siap menghadapi dinamika organisasi.
Pembaruan struktural dan legal ini kemudian diformalkan dan disahkan melalui Akta Notaris Nomor 03, tanggal 22 Februari 2021. Legalitas ini dikukuhkan secara resmi oleh Pemerintah Republik Indonesia, yang menegaskan status Yayasan sebagai badan hukum yang sah melalui Surat Keputusan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (SK Menkumham RI) Nomor: AHU-AH.01.06-0014426, tertanggal 23 Februari 2021. Pembaharuan ini menjadi tonggak penting yang memperkuat legitimasi dan profesionalitas Yayasan di mata publik dan pemerintah.
3. Basis Pengabdian di Yogyakarta
Secara administrasi, Yayasan Dharma Susila Yogyakarta dengan bangga berkedudukan di Kabupaten Bantul. Sekretariat Yayasan berlokasi strategis di kompleks Pura Jagat Natha “Banguntopo”, yang tidak hanya menjadi kantor administrasi, tetapi juga pusat spiritual dan kegiatan komunitas. Lokasi ini menjadi simbol pengakarannya Yayasan dalam kehidupan keagamaan di DIY.
Sejarah ini secara keseluruhan mencerminkan komitmen Yayasan untuk terus beradaptasi, berevolusi, dan menjadi pilar penting yang kokoh dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia dan kelestarian budaya di Yogyakarta. Setiap tanggal yang tercatat adalah penanda dari dedikasi yang berkelanjutan. *

